Rabu, 06 Juni 2012

Rencana Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Temanggung ke Observatorium Bosscha di Lembang Bandung

 


Sesuai dengan agenda kegiatan yang dirancang sejak 2011, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Temanggung berencana akan mengadakan kunjungan ke Observatorium Bosscha di Lembang Bandung pada tanggal 15 Juli 2012.Kegiatan ini diadakan dalam rangka menambah pengetahuan tentang ilmu perbintangan (ilmu falak) dan menyaksikan hilal yang menjadi dasar perhitungan hisab yang dipakai oleh Muhammadiyah. Rencana keberangkatan dari Temanggung jam 16.00 (Ahad sore), sampai bandung jam 6.00 dilanjutkan dengan wisata di Kota bandung, baru jam 15 masuk ke Observatorium Bosscha.
Jumlah peserta yang sudah mendaftar sekitar 40 orang yang terdiri dari  anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Temanggung, Majelis Tarjih dan Tajdid Cabang Muhammadiyah se Kab. Temanggung dan beberapa anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Temanggung.
Observatorium Bosscha merupakan tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha didirikan pada tanggal 1 Januari 1923 oleh Perhimpunan Bintang Hindia Belanda pada masa penjajahan dulu. Pembangunan observatorium ini semula bertujuan untuk memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda (Indonesia).
Observatorium yang sebagian besar didanai oleh Karel Albert Rudolf Bosscha—seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar—ini bertempat di kawasan Lembang, tepatnya 15 kilometer di bagian utara Kota Bandung, Jawa Barat. Berada di atas tanah seluas 6 hektar dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, membuat kawasan ini dianggap cocok menjadi tempat mengamati bintang-bintang, planet-planet dan benda-benda langit lainnya, selain memberikan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, karena dulu pada masa pembangunannya dalam radius lima kilometer daerah ini relatif masih kosong sehingga masih terbebas dari polusi cahaya yang bisa mengurangi kualitas pembentukkan citra atau hasil pengamat terhadap benda langit yang sedang diamati.
Observatorium terbaik di Asia Tenggara ini mempunyai lima buah teleskop besar, yaitu Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Schmidt Bima Sakti, Teleskop Refraktor Bamberg, Teleskop Cassegrain GOTO dan Teleskop Refraktor Unitron. Setiap teleskop mempunyai spesifikasi tersendiri dan digunakan untuk keperluan berbeda-beda.
Setiap tahun sekitar 60.000 orang, yang 80%-nya adalah pelajar, mengunjungi observatorium ini untuk melihat temuan pakar-pakar dunia atas benda-benda langit. Sejak didirikan, tak kurang 500 kertas kerja telah dihasilkan oleh Observatorium Bosscha.
Ada beberapa kunjungan yang disediakan disini, yaitu :
• Kunjungan siang
• Kunjungan malam rutin
• Kunjungan malam permintaan khusus
Tapi  perlu ingat, obsevatorium ini tidak menerima kunjungan pada :
• Hari Minggu dan hari-hari libur nasional
• Hari Senin (untuk perawatan teknis teropong dan intrumentasi)
• Seminggu sebelum dan setelah hari raya Idul Fitri
• Tanggal 30 Desember sampai dengan 3 Januari tahun berikutnya.
Apabila terdapat fenomena alam khusus / aktivitas astronomi (Astro Camp, kenampakan obyek langit tertentu) biasanya diumumkan melalui internet. HTM-nya pun hanya sekitar Rp 5.000,- s/d Rp 10.000,- 
 
SUmber pendukung :
http://gotoplace.wordpress.com/
http://www.wisatadibandung.com

Senin, 04 Juni 2012

TAFSIR AL MUJAADILAH (58) AYAT 11-18

Penjelasan Kitab :
Tafsir Al ‘Usyril Akhir  Minal Qur’anil Karim  Min Kitab Zubdatit Tafsir  (Tafsir dari 3 Juz terakhir
dalam Al Qur’an),   Penulis   Al  Syaikh Doktor Muhammad Bin Sulaiman Al Asyqor, terbitan Saudi Arabia
(www.tafseer.info)
Oleh Bp. H. Drs. Asy’ari Muhadi. MA
(disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, 27 Mei 2012).
TAFSIR AL MUJAADILAH (58) AYAT 11-18
(Wanita yang mengajukan Gugatan)

AYAT 11
 
11.  Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi  ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
 

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:  "Berlapang-lapanglah dalam majlis",  Allah yang Maha Suci memerintahkan kepada mereka untuk berperilaku yang baik, sebagian  mereka terhadap sebagian yang lain, untuk melapangkan tempat duduk dalam majelis, dan meniadakan berdesak-desakan dalam majelis. Khatadah dan Mujahid berkata: “ Pernah para sahabat berdesak-desakan dalam majelis, maka kemudian mereka diperintah  supaya memberi kelonggarakan sebagain mereka kepada yang lain.
Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Artinya hendaklah kamu memberi kelonggaran kepada orang lain, niscaya Allah akan memberi kelonggaran kamu di surga. Dan melonggarkan majelis itu pada setiap majelis, yang dihadiri oleh orang muslim untuk mendapatkan kebaikan dan pahala. Apakah itu majelis yang membicarakan tentang peperangan atau majelis dzikir atau kajian-kajian agama, atau majelis sholat Jum’at. Dan setiap orang dia lebih mempunyai hak ketika sudah menempati tempat duduk dalam majelis, tetapi akan lebih utama kalau memberi kelonggaran kepada saudaranya. Rasulullah bersabda : “
Janganlah menyuruh seseorang untuk berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk ditempat duduk tersebut. Tetapi hendaklah kamu berlonggar-longgar.”  Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah. 
Artinya, manakala ada orang yang minta untuk pindah, dikarenakan yang akan duduk   orang memiliki keutamaan dalam urusan agama  dan orang yang memiliki ilmu yang bersumber dari Allah, maka dia
harus berdiri pindah tempat. Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Maksudnya, Allah akan mengangkat orang-orang yang memiliki ilmu dari kamu , akan diangkat beberapa derajat yang tinggi di dalam kemulyaannya didunia dan dia akan mendapat balasan di akhirat nanti. Barangsiapa yang mengumpulkan iman dan ilmu, Allah akan mengangkatnya  dengan imannya beberapa derajat, dan Allah akan mengangkat dengan ilmunya beberapa derajat. Jika sudang mengumpul dalam seseorang itu iman dan ilmu, maka dia akan dihormati dalam majelis-majelis.
 
Kajian Lengkap Klik disini



Jumat, 01 Juni 2012

MEMBANGUN JIWA TAWAKKAL

Oleh Bp. Budiman Mustofa, Lc., M.P.I (Surakarta)
Disampaikan dalam Kajian Kuliah Subuh Ahad Pagi Muhammadiyah Temanggung,
Tanggal 27  Mei 2012.


 
177.  Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan  tetapi  sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka Itulah   orang-orang yang benar (imannya), dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.( QS. Al Baqarah (2) 177).
Ayat ini menjawab fitnah orang Yahudi ketika umat Islam diperintahkan merubah arah kiblat dari Masjidil Aqsha Jerusalem ke Masjid Haram Mekkah, bahwa orang beriman (puncak kebaikan) itu bukan sekedar menghadapkan wajahnya kebarat atau timur, tetapi orang yang benar- benar beriman adalah :
1.  Beriman kepada Allah, 
2.  Beriman terhadap hari Kemudian (akhir), 
3.  Beriman kepada malaikat-malaikat, 
4.  Beriman kepada kitab-kitab, 
5.  Beriman kepada nabi-nabi 
6.  Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta.
7.  Memerdekakan hamba sahaya, 
8.  Mendirikan shalat, dan 
9.  Menunaikan zakat; dan 
10. Orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan 
11. Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Dan  di dalam ayat ini menegaskan ditegaskan ibadah kita tidak sekedar formal dengan  sholat saja, tetapi juga dituntut keimanan dalam hati dan ibadah untuk masyarakat sekitarnya (sosial).  Pemberian harta (sadaqah) diutamakan kepada kerabat karena bermanfaat untuk menyambung tali silaturrahmi dan mendapat pahala dari sadaqah  tersebut.
Sabar yang utama adalah ketika musibah datang pada hentakan pertama, dan mengucapkan  innalillahi wa innalilahi roji’un.  Karena ujian atau musibah yang datang dalam rangka  peningkatan kelas ketaqwaan kita.
Kesempurnaan beribadah  manusia adalah pelaksanaan ibadah yang benar kepada Allah  disertai dengan selalu memohon pertolongan pada Allah. Seperti yang selalu kita ucapkan setiap hari :

Kajian lengkap Klik disini.