Tampilkan postingan dengan label Kajian Malam Rabu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Malam Rabu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Larangan Berbantah-bantahan masalah Takdir

 PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag. 
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 13 Nopember 2012 Alhamdulillah kita masih berjumpa lagi dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kita dengan menambah ilmu, Allah menggaris bawahi bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.  Dengan ilmu agama yang benar, maka seseorang semakin  tinggi ilmunya semakin besar rasa takut pada Allah.
PASAL 67
  
67. Berbicara tanpa dasar, berbantah-bantahan dan beradu argumentasi terutama dalam masalah takdir menurut semua firqah dilarang keras sebab masalah takdir merupakan rahasia Allah dan Rabb telah melarang  para Nabi berbicara soal takdir serta Rasulullah  juga melarang berbantah-bantahan dalam masalah takdir. Begitu pula para sahabat Nabi, Tabi'in, para ulama sunnah dan Ahli wara' sangat membenci setiap pembicaraan masalah takdir dan melarang berbantah-bantahan dalam perkara takdir. Maka cukuplah bagimu bersikap tunduk patuh, menetapkan dan beriman serta menyakini apa yang telah diucapkan Rasulullah  segala perkara dan mendiamkan selain perkara itu.

 Dalam masalh ini ada hadist dhoif yang  diriwayatkan  oleh  Abu  Nu’aim  di  dalam  Al  Hilyah (VI/182) dari Ibnu Umar, dia berkata Rasulullah bersabda :  ”Janganlah  kalian  berbicara mengenai takdir, karena sesungguhnya takdir itu adalah rahasia Allah, maka janganlah kalian membuka rahasia Allah.” Hadist ini didhoifkan oleh Al Albani di dalam Dhoif Al Jami’ (4.131).
Sebagaimana dalam hadist Amr bin Su’aib dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah keluar menemui para sahabatnya dan waktu itu mereka sedang berbantah-bantahan dalam masalah takdir, waktu  itu wajah Rasulullah terlihat seperti buah delima yang  dibelah karena marah, kemudian beliau bersabda  : “ Seperti inilah kalian diperintahkan atau untuk hal inikah kalian diciptakan, kalian membenturkan Al Qur’an sebagiannya dengan yang lain ? Disebabkan hal inilah umat-umat sebelum kalian binasa.”  Hadist  riwayat Ibnu Majah  (85) dan lainnya, dishohihkan oleh Al Albani dalam Ath-Thohawiyah (288).
Penjelasan:
Siapapun yang berdebat masalah takdir mesti ramai dan tidak akan selesai, karena banyak penjelasan dalam takdir yang merupakan rahasia Allah, jadi manusia tidak mampu menjelaskannya. Ada kisah  dari Imam Abu Hanifah, yang sedang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, iblis dan jin diciptakan dari api. Jin, Iblis dan hamba Allah yang dilaknat akan dimasukkan kedalam neraka dan itu siksaan bagi mereka. Salah satu orang tertawa mendengar penjelasan tersebut, karena ia berpendapat iblis dan jin diciptakan dari api, maka kalau di masukkan dalam api neraka berarti tidak ada pengaruhnya dan bukan siksaan. Imam Abu Hanifah dalam menjelaskan hal tersebut mengambil sebuah wadah dari tembikar (terbuat dari tanah yang dibakar) dan memukulkan tembikar tersebut ke orang tersebut sampai wadah tersebut hancur. Marahlah orang tersebut dan Imam Abu Hanifah menjelaskan : “Janganlah kamu marah, bukankah manusia diciptakan dari tanah ? Bukankah tembikar ini dibuat dari tanah ? Bukankah terasa sakit manusia yang tercipta dari tanah di pukul tembikar yang terbuat  dari  tanah  ?” Orang tersebut menjawab : iya dan iya. Dan diamlah orang tersebut dan diam pula Imam Abu Hanifah.
Ilustrasi diatas mejelaskan banyak hal yang tidak dapat dijakau dengan akal manusia, seperti halnya takdir. Jadi berkenaan dengan takdir maka sikap kita adalah :
1.  Maka cukuplah bagimu bersikap tunduk patuh atau menerima
2.  menetapkan atau menerima apa adanya
3.  beriman serta menyakini apa yang telah diucapkan Rasulullah  segala perkara 
4.  Bersikap mendiamkan perkara yang didiamkan (tidak dijelaskan) oleh Rasulullah.
 
Penjelansan lengkap klik disisni
 

 

Minggu, 11 November 2012

Larangan menghujat dan mencela Atsar dari Rasulullah dan para sahabat

 PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag. 
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 6 Nopember 2012

Alhamdulillah kita masih berjumpa lagi dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kita dengan menambah ilmu, Allah menggaris bawahi bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.  Imam Ibnu Abdulkhahar mengatakan: Orang-orang yang rajinberibadah dan beramal tetapi tidak rajin menuntut ilmu, maka pada ibadahnya yang ia lakukan lebih banyak rusaknya dari pada benarnya .
PASAL 66 
66. Jika anda mendengar orang yang menghujat atsar, tidak mau menerimanya atau mengingkari sebagai khabar yang datang dari Rasulullah maka jadikanlah ia tertuduh dalam Islam sebab ia seorang yang buruk pendapat dan madzhab, dan bahwasanya  ia menghujat Rasul  dan para  sahabatnya, dikarenakan kita mengenal Rasulullah , mengenal Al-Qur'an, mengenal kebaikan dan  keburukan, dan mengenal dunia dan   akhirat dengan atsar tersebut.  Sesungguhnya Al-Qur'an lebih butuh kepada Sunnah dari pada Sunnah kepada Al-Qur'an.
Penjelasan :
Menurut Imam Nawawi, Atsar adalah apa-apa yang bersumber pada Nabi Muhammad atau dari para sahabat. Sedangkan ulama yang lain mengatakan bahwa Atsar yang diriwayatkan dari Nabi disebut hadist atau sunah, sedang yang teriwayatkan dari sahabat disebut atsar. Adanya atsar kita jadi mengenal Rasulullah , mengenal Al-Qur'an, mengenal kebaikan dan  keburukan, dan mengenal dunia dan  akhirat. Jadi kita mengenal ucapan dan lafal dari Al Qur’an dari atsar Nabi dan sahabat.
Hadist riwayat Ibnu Majjah dari Amr bin Auf bin Zaid, Rasulullah bersabda : “B
arangsiapa yang  menghidupkan satu sunah diantara sunah-sunahku, kemudian diamalkan, dan dilakukan pula oleh orang lain disekitarnya, maka baginya mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya dengan tidak mengurangi pahala orang tersebut.”
Menurut Ibnu Majjah dalam Shohih nya, cara menghidupkan sunnah ada beberapa macam :
1.  Memahami petunjuk dalam sunnah,
2.  Mengamalkannya,
3.  Menyebarkannya diantara manusia,
4.  Menganjurkan orang lain untuk melaksanakannya,
5.  Mengingatkan orang lain ketika menyelisihinya.


Selasa, 23 Oktober 2012

Manusia Masuk Surga bukan karena Amalannya

 PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari) 
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag. 
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 2 & 9 Oktober 2012

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat tertinggi kepada kita yaitu nikmat iman dan nikmat Islam yang tidak bisa dinominalkan dengan uang. Iman bisa bertambah dan berkurang, bertambahnya iman dengan keta’atan dan berkurangnya iman dengan kemaksiatan. Kita bisa manjadi seorang mu’min dengan iman yang benar hanya dapat ditempuh dengan satu jalan, yaitu ilmu (belajar).
 
PASAL 65 

65.  Ketahuilah bahwa tidak seorangpun masuk Surga kecuali dengan rahmat Allah , dan tidaklah  menyiksa seorangpun melainkan karena dosa-dosanya. Jika seandainya Allah menyiksa semua penghuni langit dan bumi baik yang shalih atau yang buruk, maka ia telah menyiksa mereka tanpa dzalim kepada mereka, tidak bisa dikatakan Allah berlaku dzalim. Sebab seorang bisa disebut dzalim bila mengambil sesuatu yang bukan menjadi miliknya sementara semua makhluk dan putusan menjadi milik-Nya, makhluk yang ada adalah makhluk-Nya dan kampung dunia adalah kepunyaan-Nya, Ia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat bahkan merekalah yang akan ditanya, maka tidak boleh ditanyakan kepada Allah kenapa dan bagaimana? Tidak ada seorangpun yang mampu mempengaruhi antara hubungan Allah dengan makhluk-Nya.
 
Rasulullah bersabda : “  Hendaklah kalian  bersungguh-sungguh, bersahajalah dalam setiap tindakan, dan berilah kabar gembira karena sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.”  Mereka berkata : “ Tidak juga engkau ya  Rasulullah  ?”.  Rasulullah menjawab : “  Tidak juga aku,  hanya saja Allah SWT telah memenuhi  rahmat kepadaku, dan ketahuilah oleh kalian bahwasannya amal yang paling disukai oleh Allah adalah  yang terus menerus dikerjakan walau sedikit.” Hadist riwayar Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah. Rasulullah juga bersabda : “Tidak akan masuk surga salah seorang dari kalian karena amalannya dan tidak pula diselamatkan dari neraka begitupula aku kecuali rahmat Allah SWT.” Hadist riwayat Muslim dari Jabir ra.
 
Kajian Lengkap Klik Disini
 

Sabtu, 06 Oktober 2012

TAFSIR SURAT AL HASYR (59) 13-24

Penjelasan Kitab :
Tafsir Al ‘Usyril Akhir Minal Qur’anil Karim Min Kitab Zubdatit Tafsir (Tafsir dari 3 Juz terakhir
dalam Al Qur’an), Penulis Al Syaikh Doktor Muhammad Bin Sulaiman Al Asyqor, terbitan Saudi Arabia
(www.tafseer.info)
Oleh Bp. H. Drs. Asy’ari Muhadi. MA
(disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, 25 September 2012).

AYAT 13
13. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah, yang demikian itu Karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.
Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti dari pada Allah , yaitu sungguh kamu orang-orang muslim, didalam hati orang munafik sangat takut terhadap kaum muslimin seperti orang Yahudi dari pada takut kepada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti, manakala mereka tahu sungguh mereka mengerti sesungguhnya Allah yang menguasakan kamu wahai orang-orang mukmin, atas orang munafik dan orang yahudi. Maka Allah itulah yang lebih berhak ditakuti dari pada kamu.
 
AYAT 14

14. Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat, kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.




TAFSIR SURAT AL HASYR (59) AYAT 10-12

Penjelasan Kitab :
Tafsir Al ‘Usyril Akhir Minal Qur’anil Karim Min Kitab Zubdatit Tafsir (Tafsir dari 3 Juz terakhir
dalam Al Qur’an), Penulis Al Syaikh Doktor Muhammad Bin Sulaiman Al Asyqor, terbitan Saudi Arabia
(www.tafseer.info)
Oleh Bp. H. Drs. Asy’ari Muhadi. MA
(disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, 18 September 2012).

AYAT 10
10. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orangorangyang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi MahaPenyayang."
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor),Dan mereka itu orang orang yang mengikuti jejak Nabi dan para sahabat yaitu mereka mengikuti hal-hal yang baik dari orang- orang Mujahirin dan anshor sampai hari kiamat.
Penejelasan:
Generasi yang baik itu adalah Salafus Sholih yaitu generasi Nabi Muhammad, generasi para sahabat , generasi tabi’in dan generasi tabi’in tabi’in. Rasulullah bersabda : “Sebaik-baiknyakamu adalah orang yang hidup bersamaku, kemudian generasi yang datang sesudahnya,kemudian generasi sesudahnya. Sesudah itu akan terjadi fitnah yang sangat banyak, maka berpeganglah kepada Al Qur’an, dan Sunnahku, serta sunnah khulafaurhasidin yang mendapat petunjuk. Hendaklah kamu gigit dengan gigi gerahammu.”
Salafus Sholih dalam perkembangannya disebut ahlul sunnah yaitu orang yang melakukan amalan dan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasululah dan sahabatnya. Meskipun seorang diri didaerah terpencil, tetapi mengikuti sunnah Nabi, maka bisa disebut ahlul sunnah. 


KAJIAN LENGKAP BISA KLIK DISINI

Minggu, 30 September 2012

Beriman bahwa setiap tetesan hujan disertai satu malaikat yang turun dari langit

PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag.
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 4 September 2012
Ada 4 perkara yang akan menjadikan Islam bisa hilang dari diri kita atau lingkungan kita :
  1. Seseorang tidak mengetahui apa yang ia kerjakan. Contoh melaksanakan shalat karena orang tua shalat, tetangganya shalat, temannya shalat. Ketika disekelilingnya masih sholat, maka ia sholat, tetapi ketika mereka telah tiada, maka di berhenti sholat.
  2. Seseorang tidak mau mengerjakan apa yang ia ketahui.
  3. Seseorang tidak mau berupaya mencari tahu terhadap apa yang tidak ketahui.
  4. Seseorang yang berupaya menghalangi orang lain yang sedang berupaya mencari tahu.
Oleh karena itu , mudah-mudahan kajian malam hari ini kita termasuk orang yang mencari tahu apa yang belum diketahui, dan berusaha mengamalkan apa yang kita ketahui.

PASAL 60

60. Beriman bahwa setiap tetesan hujan disertai satu malaikat yang turun dari langit untuk meletakkan air hujan pada tempat yang telah diperintahkan oleh Allah.

Penjelasan :
Dalam Tafsir Ath Thobari disebutkan “Tidaklah ada satu jengkal pun tempat dilangit ada padanya malaikat yang selalu bertabih, bertahmid dan melakukan perintah Allah SWT.” Bahkan dalam suatu riwayat, malaikat penjaga Arsy , jarak antara tulang mata kaki dan ujung tulangnya mempunyai jarak perjalanan 100 tahun. Dalam riwayat yang lain antara pundak dan telinganya berjarak perjalanan 100 tahun. Dalam masalah malaikat merupakan area keyakinan, kita wajib meyakini tanpa harus melalui debat akal, karena malaikat itu perkara ghaib yang diluar jangkauan akal manusia.
Tetesan hujan tersebut dikawal oleh malaikat hingga tempatnya, tidak dilempar atau dijatuhkan. Hal ini menunjukkan Maha KuasaNya Allah SWT, yang menugaskan malaikat, salah satunya malaikat Mikail. Malaikat Jibril , Mikail dan Isrofil merupakan pembesar-pembesarnya malaikat, seperti hadist riwayat Muslim dan Abu Dawud: Ketika Rasulullah bangun diwaktu malam dan melaksanakan sholat malam , ketika itu beliau membaca doa : “Ya Allah, Rab nya Jibril, Robnya Mikail , Robnya Isrofil , pencipta langit dan bumi , yang mencipkan yang nampah dan yang tidak tampak, engkau lah yang memutuskan hamba-hambuku terhadap apa yang mereka persilihkan, maka berilah hidayah terhadapku terhadap apa yang diperselisihkan diantara mereka terhadap sesuatu yang benar.”
Allah menciptakan malaikat dalam jumlah yang sangat banyak. Dalam QS. Ath Thuur (52) ayat 1-4 Allah berfirman :

1. Demi bukit, 2. Dan Kitab yang ditulis,3. Pada lembaran yang terbuka,4. Dan demi Baitul Ma'mur,
Dalam Tafsir Ibnu Katsir , Baitul Makmur ada diatas langit yang ke tujuh, dan temapt malaikat melaksanakan ibdah dengan bertawaf didalamnya, Rasulullah bersabda dalam hadist dari Isro ‘, setelah beliau sampai ke langit yang ke tujuh :

“ Kemudian aku diangkat ke Baitul Makmur . Dan ternyata setiap harinya ia dimasuki tujuh puluh ribu malaikat , yang mereka tidak pernah kembali padanya.”
Hadits ini menunjukkan betapa banyaknya malaikat.

Penjelasan lengkap klik disini

Jumat, 03 Agustus 2012

Penjelasan Minhajul Muslim (2)

 Di Sampaikan Oleh Bp. H. Makmun Pitoyo, M. Pd.
Dalam Kajian Malam Rabu di SMK Muhammadiyah I Temanggung
Tanggal 17 Juli 2012

Pembahasan Kedua: Mengimani Rububiyyah (ketuhanan) Allah SWT Seorang muslim harus menyakini ketuhanan Allah SWT, bahwa Dialah yang Rabb segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Tiada Rabb melainkan diri-Nya. Ini bisa dibuktikan juga dengan dua dalil nyata: 
Dalil Naqly
1.  Pemberitahun Allah SWT mengenai ketuhanan-Nya Dia sendirilah yang memberitahukan kepada para hamba-Nya, bahwa Dialah Rabb segala sesuatu yang ada di alam ini. Semuanya berada di bawah kendalinya. Jikalau Dia mengatakan ada, maka  akan terjadilah apa yang diinginkan-Nya. Jikalau Dia mengatakan tiada, maka akan terjadilah ucapan-Nya itu.  Dalilnya bisa Anda dapati dalam berbagai ayat
Al-Quran, di antaranya:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” *Al-Fatihah: 2]
“Katakanlah, ‘Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya, ‘Allah.” [Ar-Ra’d: 16] 
2.  Pemberitahuan para Nabi dan Rasul mengenai ketuhanan-Nya, kesaksian mereka dan pengakuannya.
Siapapun Nabi yang diutus oleh Allah  SWT  di muka bumi, maka ia pasti menjelaskan mengenai ketuhanan Allah  SWT. Ia menyampaikannya secara lansung melalui lisannya kepada umatnya, baik melalui khutbah, penyampain, doa dan sebagainya. Ini bisa Anda saksikan dalam beberapa ayat Al-Quran yeng menjelaskan pengakuan mereka. 
“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan  kami, kami telah menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-A’raaf: 23]                   
“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah  mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka.” [Nuh: 21] 

Kajian lengkap klik disini



Sabtu, 21 Juli 2012

TAFSIR SURAT AL HASYR (59) ayat 3 - 9

Penjelasan Kitab :
Tafsir Al ‘Usyril Akhir  Minal Qur’anil Karim  Min Kitab Zubdatit Tafsir  (Tafsir dari 3 Juz terakhir dalam Al Qur’an),   Penulis   Al  Syaikh Doktor Muhammad Bin Sulaiman Al Asyqor, terbitan Saudi Arabia (www.tafseer.info) , Oleh Bp. H. Drs. Asy’ari Muhadi. MA (disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, 10 Juli 2012).


TAFSIR SURAT  AL HASYR (59)
(Pengusiran)

AYAT 3

 3.  Dan jika tidaklah Karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia dan bagi mereka di akhirat azab neraka.

Dan jika tidaklah Karena Allah  telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia,  artinya  seandainya Allah tidak menetapkan mereka (orang yahudi) keluar dari Madinah saat itu, dan Allah tidak menetapkan hukum pada mereka , sungguh Allah akan menyiksa mereka dengan pembunuhan, dihina di dunia ini. Sebagaimana Allah perbuatan terhadap Bani Khuraidoh yang keluar dari Kaibar.
Penjelasan :
Terhadap Bani Khuroidoh Rasulullah membuat ketetapan bahwa 1) mereka harus meninggalkan Khaibar dengan membawa barang sekuat unta, 2) jika mereka masih mau mengurusi perkebunan mereka diperbolehkan, dengan catatan biaya pengolahan ditanggung oleh orang yahudi, sedang jika membuahkan hasil dibagi dua dengan orang muslim. 3) Jika orang yahudi menyalahi perjanjian maka mereka akan di usir dengan paksa ,kalau melawan mereka boleh di bunuh.

AYAT 4
 4.  Yang demikian itu adalah kKarena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Yang demikian itu adalah  karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, yaitu dikarenakan
permusuhan mereka terhadap Allah dan utusannya dan  karena mereka merusak perjanjian, maka mereka berhak mendapat hukuman.


Kajian lengkap Klik disini

Rabu, 04 Juli 2012

Penjelasan Kitab Minhajul Muslim 1

Di Sampaikan Oleh Bp. H. Makmun Pitoyo, M. Pd.
Dalam Kajian Malam Rabu di SMK Muhammadiyah I Temanggung
Tanggal 26 Juni 2012

Kitab Minhajul Muslim dari segi bahasa dapat berarti methode atau jalan yang ditempuh oleh seorang  muslim. Di  dalamnya membahas mengenai masalah Aqidah, etika (adab), Akhlak, Ibadah dan Muamalah (hubungan sesama manusia). Ditulis oleh Abu Bakar Jabir al Jazyakiri.
 
BAB I : AQIDAH
Pembahasan Pertama: Beriman Kepada Allah SWT Beriman Kepada Allah SWT merupakan hal yang sangat penting, kehidupan seorang muslim ada pada keimanan ini. Dialah Rabb segala sesuatu, pencipta langit dan bumi, serta segala sesuatu yang ada di atasnya dan apa yang ada di antara keduanya  . Dan iman itu adalah pokok-pokok bagi kehidupan orang muslim bagi kesempurnaan seorang muslim. 
 
Beriman Kepada Allah SWT
Seorang muslim beriman kepada Allah SWT dengan arti bahwa orang muslim itu membenarkan dengan wujudnya atau keberadaan Allah Yang Maha  Suci dan Maha Tinggi itu ada dan benar adanya. Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Mulya dan Maha Tinggi itu kekuasaannya meliputi seluruh langit dan bumi. Allah itu Maha Mengetahui terhadap barang yang ghaib dan hal yang nyata.  Allah adalah Rabb seluruh makhluk dan malaikat, tiada  Tuhan selain Dia.  Dan sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan. Semua itu dapat dijelaskan dengan dalal Naqli dan’Aqli.
 
Penjelasan ;
Dalam kajian terdahulu di sampaikan bahwa tetesan air hujan, setiap tetesnya di bawa  oleh malaikat sampai tempat tujuannya seperti yang diperintahkan Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa hujan itu barang nyata, tetapi dimana dan kapan turunnya merupakan barang ghoib, karena sudah diperintahkan atau ditakdirkan olah Allah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa setelah hari  kiamat, matahari dan bulan dimasukkan ke dalam neraka, sebagai gambaran / penegasan untuk orang – orang yang di dunia menyembah matahari dan bulan.
 

Rabu, 27 Juni 2012

Jumlah takbir shalat Jenazah empat kali

PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag. 
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 19 Juni 2012
 
PASAL 59

 59.  Jumlah takbir shalat Jenazah empat kali sebagaimana pendapat Imam Malik bin Anas, Sufyan AtsTsauri, Al Hasan bin Shalih, Ahmad bin Hambal dan para ulama Ahli fikih karena pendapat itu lebih sesuai sabda Rasulullah.

 Hadist riwayat Bukhari dan  Muslim dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah memberitahukan wafatnya An Najasi pada hari kematiannya, kemudian Rasululllah bersama para sahabat keluar menuju tempat sholat, lalu takbir empat kali. (Ini lafal Muslim).Dan juga diriwayatkan dari jalur hadist Jabir,  menurut Bukhari dan Muslim. Dan menurut riwayat Muslim dikatakan bahwa takbir dalam sholat jenazah tersebut sebanyak lima kali,hal ini diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia mengatakan :  “ Zaid takbir sebanyak empat kali ketika mensholatkan jenazah kami, dan ketika mensholatkan jenazah yang lain sebanyak lima kali, kemudian saya bertanya kepadanya, lantas dia menjawab : “ Rasulullah pernah bertakbir dengannya.” Dan diriwayatkan juga bahwa takbir ketika sholat jenazah ada yang elbih dari jumlah-jumlah tersebut, bahkan sampai sembilan kali takbir. (lihat dalam  Ahkamu Al-Janaiz karya Al Albani).
 
Penjelasan:
An Najasi merupakan sahabat di negeri Habsyah (Ethiopia), dan sholat jenazah yang dilakukan merupakan sholat ghoib, karena jarak yang jauh serta waktu kematiannya yang telah berlalu. Dalam salah satu hadist, kalau seseorang meninggal dan disholatkan oleh 100 orang muslimin dan ke 100 orang tersebut memintakan syafa’at  (pertolongan) kepada Allah, maka Allah akan memberikan syafa’at kepada yang meninggal tersebut. Bahwakan ada riwayat yang mengatakan jika ada seorang muslim meninggal dan disholatkan oleh 40 orang kaum muslimin ang tidak memiliki dosa syirik, maka Allah akan member syafa’at kepada yang meninggal tersebut. Jadi semakin banyak orang mensholatkan jenazah semakin bagus. 
Shalat jenazah merupakan fardhu kifayah yaitu kewajiban yang harus dilakukan oleh orang muslim, tetapi jika sudah ada orang muslim  yang lain telah melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban tersebut. Dalam hadist Abu Qatadahz di ceritakan bahwa ketika  di datangkan jenazah laki-laki dari kalangan Anshor dihadapan Nabi agar beliau mensholatkannya, ternyata beliau bersabda : “ Sholatilah teman kalian ini, aku tidak akan mensholati karena ia meninggal dengan menaggung hutang.” Mendengar  hal  tersebut  Abu  Qatadahz  berkata  :  ”Hutang itu menjadi tanggunganku.” Kemudian Nabi bersabda : “ Janji itu akan disertai dengan penunaian ?” Dijawab oleh Abu Qatadahz:  “  Janji  itu  akan  disertai  dengan  penunaian.” Maka Nabi pun mensholatinya. (HR. Nasa’i).



Minggu, 17 Juni 2012

Takdir yang akan menimpamu tidak akan meleset darimu

 PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag. 
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 12 Juni 2012

PASAL 57
 
57.  Ketahuilah suatu yang ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa
yang ditakdirkan tidak menimpamu, tidak akan menimpamu .


Diriwayatkan dari beberapa sahabat Nabi diantaranya Ubaybin Ka’ab, Arm bin Al’Ash, Anas bin Malik dan lainnya. Hadist Ubay bin Ka’ab diriwayatkan oleh Ibnu Hibban melalui jalur  Ibnu Dailami, dia mengatakan : “ Ada yang mengganjal di dalam jiwaku mengenai maslah takdir, saya khawatir ini akan merusak agama dan permasalahanku, kemudian saya mendatangi Ubay bin Ka’ab, lalu aku mengatakan: “ Wahai Abu Al Mundzakir, sesungguhnya ada yang mengganjal di dalam jiwaku mengenai masalah takdir, saya khawatir ini akan merusak agama  dan permasalahanku, maka kabarkanlah kepada saya sesuatu yang berkenaan dengan hal ini, mudah-mudahan dengannya Allah memberi manfaat kepada saya.” Kemudian dia mengatakan :
“ Seumpama Allah (mentakdir) untuk mengadzab penduduk langit dan bumi niscaya Allah akan mengadzab mereka dan Dia tidak berbuat dholim kepada mereka, dan seumpama Allah memberi rahmat kepada mereka niscaya rahmatNya lebih baik bagi mereka dari pada amalan-amalan mereka. Walau kamu memiliki amalan semacam emas sebesar gunung Uhud atau seperti gunung Uhud yang kamu infaqkan ke jalan Allah, niscaya tidak akan diterima sebelum kamu beriman kepada takdir. Dan ketahuilah sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu maka tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan  tidak menimpamu maka tidak akan menimpamu. Dan apabila kamu meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman dengan keyakinan semacam ini maka kamu akan masuk neraka. Dan cobalah kamu datang kepada saudaraku Abdullah bin Mas’ud untuk bertanya kepadanya.” Kemudian saya mendatangi Abdullah bin Mas’ud  untuk bertanya kepadanya, dan diapun mengatakan seperti apa yang dikatakan Ubay bin Ka’ab, kemudian Abdullah bin Mas’ud mengatakan kepada saya : “ Coba kamu datang menghadap Khudzaifah, kemudian saya datangi Khudzaifah dan bertanya kepadanya, diapun mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Ubay bin Ka’ab dan Abdullah bin Mas’ud. Kemudian Khudzaifah berkata : “ Datanglah kepada Zaid bin Tsabit dan bertanyalah kepadanya. Kemudian saya mendatangi Zaid bin Tsabit dan bertnya kepadanya, kemudia dia mengatakan  :  “Saya mendengar Rasulullah bersabda  :  Seumpama Allah  (mentakdirkan) untuk mengadzab penduduk langit dan bumi niscaya Allah akan mengadzab mereka dan Dia tidak berbuat dholim kepada mereka, dan seumpama Allah (mentakdirkan) memberi rahmat kepada mereka niscaya rahmatNya lebih baik bagi mereka dari pada amalan-amalan mereka. Walau
kamu memiliki amalan semacam emas sebesar gunung Uhud atau seperti gunung Uhud yang kamu infaqkan ke jalan Allah, niscaya tidak akan diterima sebelum kamu  beriman kepada takdir. Dan ketahuilah sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu maka tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu maka tidak akan menimpamu. Dan apabila kamu meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman dengan keyakinan  semacam ini maka kamu akan masuk neraka.” (ini adalah lafal Ibnu Majjah).
Penjelasan :
Dengan memahami pernyataan tersebut diatas, seharusnya kita dapat terhindar dari perasaan takut atau was-was, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang dan percaya diri untuk selalu tawakal kepada Allah SWT. Dan rezeki yang kita terima tidak mungkin diambil oleh orang lain. Kalaupun ada rezeki yang seolah-olah akan menjadi milik kita, lalu diambil oleh orang lain, itu hanyalah ujian pada kita agar kita  selalu ingat pada Allah.  Dan tidak ada takdir Allah yang melset atau nyasar, semuanya sudah pasti. Dan takdir ini merupakan ujian dari Allah SWT agar kita selalu bersabar. 


Senin, 04 Juni 2012

TAFSIR AL MUJAADILAH (58) AYAT 11-18

Penjelasan Kitab :
Tafsir Al ‘Usyril Akhir  Minal Qur’anil Karim  Min Kitab Zubdatit Tafsir  (Tafsir dari 3 Juz terakhir
dalam Al Qur’an),   Penulis   Al  Syaikh Doktor Muhammad Bin Sulaiman Al Asyqor, terbitan Saudi Arabia
(www.tafseer.info)
Oleh Bp. H. Drs. Asy’ari Muhadi. MA
(disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, 27 Mei 2012).
TAFSIR AL MUJAADILAH (58) AYAT 11-18
(Wanita yang mengajukan Gugatan)

AYAT 11
 
11.  Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi  ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
 

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:  "Berlapang-lapanglah dalam majlis",  Allah yang Maha Suci memerintahkan kepada mereka untuk berperilaku yang baik, sebagian  mereka terhadap sebagian yang lain, untuk melapangkan tempat duduk dalam majelis, dan meniadakan berdesak-desakan dalam majelis. Khatadah dan Mujahid berkata: “ Pernah para sahabat berdesak-desakan dalam majelis, maka kemudian mereka diperintah  supaya memberi kelonggarakan sebagain mereka kepada yang lain.
Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Artinya hendaklah kamu memberi kelonggaran kepada orang lain, niscaya Allah akan memberi kelonggaran kamu di surga. Dan melonggarkan majelis itu pada setiap majelis, yang dihadiri oleh orang muslim untuk mendapatkan kebaikan dan pahala. Apakah itu majelis yang membicarakan tentang peperangan atau majelis dzikir atau kajian-kajian agama, atau majelis sholat Jum’at. Dan setiap orang dia lebih mempunyai hak ketika sudah menempati tempat duduk dalam majelis, tetapi akan lebih utama kalau memberi kelonggaran kepada saudaranya. Rasulullah bersabda : “
Janganlah menyuruh seseorang untuk berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk ditempat duduk tersebut. Tetapi hendaklah kamu berlonggar-longgar.”  Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah. 
Artinya, manakala ada orang yang minta untuk pindah, dikarenakan yang akan duduk   orang memiliki keutamaan dalam urusan agama  dan orang yang memiliki ilmu yang bersumber dari Allah, maka dia
harus berdiri pindah tempat. Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Maksudnya, Allah akan mengangkat orang-orang yang memiliki ilmu dari kamu , akan diangkat beberapa derajat yang tinggi di dalam kemulyaannya didunia dan dia akan mendapat balasan di akhirat nanti. Barangsiapa yang mengumpulkan iman dan ilmu, Allah akan mengangkatnya  dengan imannya beberapa derajat, dan Allah akan mengangkat dengan ilmunya beberapa derajat. Jika sudang mengumpul dalam seseorang itu iman dan ilmu, maka dia akan dihormati dalam majelis-majelis.
 
Kajian Lengkap Klik disini



Minggu, 20 Mei 2012

Pasal 51 : Beriman terhadap adanya qishash (pembalasan) pada hari kiamat




 PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag. 
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 15 Mei 2012

PASAL 51

51.Beriman terhadap adanya qishash (pembalasan) pada hari kiamat di antara para makhluk,  antara anak cucu Adam, binatang buas, makhluk pengganggu hingga semut kecil dengan  semut kecil. Allah mengadili masing-masing makhluk, mengambil hak penghuni Surga dari  penghuni Neraka dan menyelesaikan hak penghuni Neraka dengan penghuni Surga dan mengadili antara penghuni Surga serta pengadili antara penghuni Neraka sebagainnya dengan sebagain yang lain. 

Kajian lengkap Klik disini

Kamis, 10 Mei 2012

PASAL 50 : Semua ciptaan Allah akan hancur, kecuali surga dan Neraka

PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag. 
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 8 Mei 2012 

 PASAL 50

 50. Segala sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah  fana' (kehancuran) maka pasti akan  mengalami  fana' kecuali Surga, Neraka, Arsy, Kursyi, Lauh, Qalam dan Sangkakala maka semua itu tidak akan  mengalami fana' (rusak) selama-lamanya. Kemudian Allah membangkitkan makhluk pada hari  kiamat sesuai dengan amal masing-masing ketika mati. Dan Allah menghisab mereka sebagaimana  yang dihendaki-Nya, di antara mereka menjadi penghuni Surga dan sebagian yang lain menjadi penghuni Neraka Sa'ir lalu Allah  berfirman kepada makhluk yang tidak diciptakan untuk kekal  "Jadilah kalian tanah".

Ruang  lingkup pembicaraan ini berkisar tentang penetapan yang berdasarkan nash – nash yang ada. Dari beberapa kajian ulama belum menemukan nash-nash yang menerangkan tidak rusaknya tersebut diatas  (Surga, Neraka, Arsy, Kursyi, Lauh, Qalam dan Sangkakala)  kecuali tentang surga dan neraka.
 
Penjelasan :
Logika pemikirannya : Allah SWT adalah kekal, selain Allah SWT adalah fana (hancur) kecuali yang Allah kehendaki untuk kekal.

 Muslim meriwayatkan dalam Shohihnya dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda  : “Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan amalannya ketika meninggal dunia.”
 
Penjelasan :
Dalam beberapa riwayat disampaikan bahwa nantinya manusia akan dibangkitkan lagi dalam keadaan ketika dia mati. Seorang shuhada akan dibangkitkan dengan keadaan  luka-luka yang manganga dengan darah yang mengucur tetapi baunya sangat wangi. Dan orang yang melihatnya tahu, bahwa orang ini meninggal karena berperang dijalan Allah SWT. Kemudian ada orang yang dibangkitkan dengan wajahnya tidak mempunyai secuil dagingpun, hanya tulang dan orang lain yang melihatnya tahu bahwa orang tersebut ketika hidup di dunia mencari penghidupan hanya dengan meminta-minta dengan alasan yang jelas. Kemudian ada orang yang dibangkitkan dalam keadaan mencakar-cakar wajah dan kulitnya dengan kuku yang tajam dari tembaga, dan orang tersebut karena waktu di dunia suka ghibah (membicarakanorang lain).
 Sebagai mana firman Allah SWT berfirman dalam QS. Asy Syura (42), 7 : 
7.  Demikianlah kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab,  supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. segolongan masuk surga, dan segolongan masuk jahannam.


Kajian lengkap klik disini

PASAL 49 : Orang muslim yang halal di bunuh

 PENJELASAN KITAB SYARHUS SUNAH  (Imam Al Barbahari)
Oleh Bp. Bp. Agus Effendi, M.Ag.
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, tanggal 8 Mei 2012

 PASAL 49

49. Seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah    dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya darahnya tidak halal kecuali dengan tiga perkara: 1) berzina setelah menikah, 2) keluar dari agama setelah beriman dan 3) membunuh jiwa orang mukmin tanpa dasar kebenaran, ia harus dibunuh dan selain itu darah seorang muslim haram bagi  muslim yang lain selama-lamanya hingga hari kiamat.

Sebagai hadist Rasulullah bersabda : “Demi dzat yang tidak ada ilah selain Nya, tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Illah selain allah dan bahwasannya aku adalah Rasulullah kecuali tiga orang , yaitu : orang yang meninggalkan Islam dan jama’ah, orang yang berzina, zina Muhshon (telah menikah), serta orang yang membunuh orang lain.” Hadist riwayat Al Bukhari 6878, Muslim (1676/26) dari Abdullah bin Mas’ud.

Penjelasan :
Dalam penerapan halal darahnya (hukuman) dalam kontek bingkai Negara atau Qodi (ada hakim/pengadilan), tidak boleh dilaksanakan dilaksanakan sendiri-sendiri. Orang yang meninggalkan jama’ah menurut kesepakan ulama adalah jama’ah umat Islam, bukan jama’ah tertentu.

Kajian lengkap klik disini


Rabu, 02 Mei 2012

MENCIPTAKAN SEKOLAH PARA JUARA

(capita selecta)
Oleh Badrun Mustofa , S.Pd.
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung
Di Aula SMK Muh I Temanggung, tanggal 1 Mei 2012

A. PENDAHULUAN
 
Marilah kajian malam hari ini kita mulai dengan beberapa pertanyaan :
  Berapa perbandingan antara anak-anak yang cerdas dan tidak cerdas di sekolah bapak  dan ibu?
  Apa yang bapak/ibu lakukan terhadap anak-anak yang cerdas dan tidak cerdas itu?
  Bagaimana pendapat bapak/ibu terhadap anak yang terampil dalam olah raga atau  musik tetapi nilai akademik (Matematika, IPA, dll) sangat rendah? Apa yang akan  bapak/ibu lakukan terhadap anak tersebut?
Pernyataan yang bisa membunuh kecerdasan :
  Bapak dan Ibu inilah anak-anak hebat sekolah kita. Dari kiri ke kanan, Ranking 3  Rangking 1 dan Ranking 2. Yang lainnya, belum menjadi hebat! 
  Bapak dan Ibu! Putra putri bapak dan ibu termasuk kelompok anak-anak bodoh, maka  mari kita dorong mereka bersama-sama untuk terus belajar. Mereka harus kita paksa  untuk mengikuti les Matematika dan Sains 
  Kamu itu berbakat dalam olah raga nak, tapi sayang nilai Matematika dan IPA mu 3,75.   Sungguh menghawatirkan sekali masa depanmu!
  Oalah nak nak! Tidak belajar Matematika, malah ingin jadi tukang kayu. Pantas kalau  Matematikmu dapat telur. Seperti bapakmu ini loh, jadi tukang insinyur sampai botak  kepalaku!
  Anak ber-IQ jongkok! MASA DEPANMU SURAM DAN GELAP

Perlu direnungkan :  

  Kenyataan masih banyak sekolah-sekolah kita yang melakukan identifikasi  antara  murid pandai dan murid bodoh.
  Apakah yang memiliki masa depan cerah itu hanyalah anak-anak yang dianggap cerdas  oleh sekolah?
  Apakah pengelompokan : anak cerdas dan tidak cerdas oleh sekolah itu sudah tepat?

B.  APA CERDAS ITU?
 
Bermacam Temuan Tentang Kecerdasan Manusia :
  IQ (Alfred Binnet)
  MI (Howard Gardner, Multiple Intelligence)
  EQ (Daniel Goleman, Emotional Intelligence)
  SQ (Zohar dan Marshall, Spiritual Capital)
  AQ (Paul G. Scholtz, Adversity Quotient)
  PQ (Stephen R. Covey, The 8th  Habit)
  CI (Alan J. Rowe, Creative Intelligence)

Kajian lengkap bisa klik disini

Rabu, 18 April 2012

TAFSIR AL MUJAADILAH (58) AYAT 5-10

Penjelasan Kitab : 
Tafsir Al ‘Usyril Akhir  Minal Qur’anil Karim  Min Kitab Zubdatit Tafsir  (Tafsir dari 3 Juz terakhir
dalam Al Qur’an),    Penulis   Al  Syaikh Doktor Muhammad Bin Sulaiman Al Asyqor, terbitan Saudi Arabia
(www.tafseer.info)
Oleh Bp. H. Drs. Asy’ari Muhadi. MA
(disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, 17 April 2012).
TAFSIR AL MUJAADILAH (58) AYAT 5-10
(Wanita yang mengajukan Gugatan)


AYAT 5


5. Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka  telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya kami  telah menurunkan bukti-bukti nyata dan bagi orang-orang kafir ada siksayang menghinakan.

Kajian lengkap Klik disini

Jumat, 13 April 2012

MAULID NABI (Dalam Tinjauan Sejarah)


Oleh Badrun Mustofa , S.Pd.
Disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung
Di Aula SMK Muh I Temanggung, tanggal 10 April 2012
Berdasarkan naskah-naskah yang dimiliki Ibn Al-Ma’mun, Ibn Al-Tuwair, Al-Suyuthi, Abu Syamah dan beberapa naskah penulis muslim abad 5-10 yang disimpulkan oleh peneliti Nico Kaptein dalam serial INIS no. 22.
  1. Maulid Nabi diadakan pada abad 5H/11M. Pada masa Daulah Fatimi, dan dirayakan tidak selalu pada tanggal 12 Robi’ul awwal. Peringatan Maulid ini dimeriahkan dengan khotbah dan pembacaan Al-qur’an serta pemberian hadiah kepada para pejabat dalam rangka mempererat FATIMI dan AHL AL-BAIT menjadi semakin kokoh, juga memupuk kesetiaan terhadap Imam-khalifah yang FATIMI.
  2. Sebelum Fatimi jatuh, perayaan maulid juga dirayakan dilingkungan islam sunni pada zaman Nur al-Din, juga di Syiria, bahkan juga diselenggarakan di Makkah. Diduga peringatan maulid di lingkungan orang sunni lebih bermuatan sosial politik dalam rangka melihat kesetiaan pejabat yang diundang bahkan dari hadiah yang dipersembahkan kepada penerimanya mengindikasikan tingkat hirarki yang disandangnya.
  3. Menurut sumber al-Suyuthi dan Abu Syamah, telah ada sebelum Muzaffar Al-Din yang dianggap sebagai dasar yang kuat bagi maulid dalam dunia islam. Perayaan ini masuk ke dalam sunni secara diam-diam dan terjadi silang pendapat tentang tanggal pelaksanaannya, namun hal ini tidak menjadi pembahasan ulama pada saat itu, justru persoalan boleh dan tidaknya perayaaan itulah yang cukup ramai dipolemikkan, hingga Abu Syamah yang setuju dengan perayaan ini menyebutnya sebagai Bid’ah Khasanah.
  4. Maulid disebarluaskan di Sabtah oleh Abu al-’Abbas al-’Asafi pada saat kekuatan politik kristen demikian kuat di kota ini. Tujuannya adalah untuk menghentikan perayaan-perayaan Kristen dan menonjolkan identitas Islam. Guna keabsahan maulid ini ia menulis buku al-Durr al-Munazzam fi maulid al-nabi al-mu’azzam. Tahun 647 H/1250 M anaknya melanjutkan misi ayahnya menyelesaikan buku tersebut. Di dalam buku ini dituangkan signifikansin politik maulid; antara lain kepopuleran penguasa terangkat dengan persembahan mereka kepada rakyat. Abu al-Qosim (putra Abu al-’Abbas) sangat semangat dalam menyebarkan perayaan maulid ke luar Sabtah dengan harapan umat islam bersatu dan bergandengan tangan dalam menghadapi kristen. Bahkan Abu Marwan al-Yuhanisi yang termasuk kalangan mistik juga ikut menyelenggarakan acara maulid.
  5. Penguasa Marini yaitu Abu Yusuf Ya’kub pada 691 H/1292 M. Juga menyelenggarakan maulid dalam rangka mengesahkan kekuasaannya, bahkan pada puncak kekuasaannya acara maulid dilaksanakan secara besar-besaran. Dan sejak abad 8 H / 14 M maulid di kalangan istana mulai berkurang sementara di kalangan rakyat semakin populer, semarak dan penuh gairah. Dan mulai abad inilah terjadi perbincangan mengenai boleh dan tidaknya maulid bagi ulama maghribi, seperti Ibn ‘Abbad al-Rundi membolehkannya selama tidak melanggar hukum. Kondisi ini juga dialami oleh dinasti Wattasi di mana maulid tidak menjadi penting bagi istana, sementara sangat populer di kalangan rakyat.
  6. Di Andalus, maulid dirayakan di kalangan Abu Marwan al-Yuhanisi (w.67 H/1268 M) dan kelompok mistiknya sekitar tahun 1250. Data tertua maulid di istana Nasri yaitu pada masa pemerintahan Yusuf 1 (763-755 H/1333-1354M), hal ini dimungkinkan karena adanya kontak istana dengan kelompok mistik. Kemudian pada masa Muhammad V (763-793 H/1362 – 1391 M) maulid menjadi salah satu perayaan penting, yang mana sultan pada saat itu dipuji-puji, hubungan hirarkis semakin kokoh. Sepeninggal Muhammad V ini maulid mulai menghilang, namun di belakang ketidaksepakatan boleh tidaknya maulid, ternyata di luar istana perayaan maulid tetap berlangsung bahkan hingga jatuhnya dinasti Nasri dan dilanjutkan oleh orang-orang Marisko pada abad 16 M.
  7. Maulid pada masa Abu Hammu II (760-777 H/1359-1376 M) dianggap sebagai penguasa ‘Abd al-Wahid pertama yang merayakannya, tampaknya perayaan ini berperan penting dalam memperkokoh hubungan hirarkis di wilayahnya, perayaan ini dilanjutkan pada masa pemerintahan Abu Malik’Abd al-Wahid (814-827 H/1411-1423 M), namun setelah keduanya ini tidak diketahui secara jelas dilaksanakan istana atau tidak. Pada masa Abu Malik ini ada tanda-tanda bahwa maulid diadakan di sekolah-sekolah al-Qur’an, padamasa yang sama IbnMarzuq al Hafidh sedang aktif menghapus segala bentuk maksiat yang terjada dalam maulid, namun menurut Wansyarisi, ia tidak berhasil.
  8. Dinasti Hafsi termasuk lambat dalam memperkenalkan maulid, sekalipun di daerah tertentu dari wilayah ini telah melakukannya, namun Ifriqiyah baru diadakan pada abad 9 H/ 15 M kecuali yang diadakan oleh Abu Yahya, namun perayaan inipun terakhir dihambat oleh ulama Hafsi. Begitu kuatnya tantangan ulama, baru paa awal abad 9 H/ 15 M maulid mulai diperkenalkan oleh Khalifah Abu Faris, namun demikian pertentangan tetap berlangsung hingga pada paro abad 9/14 M maulid disetujui oleh al-Rassa’ (mufti paling berwenang di kalangan masyarakat Hafsi menyetujuinya).
  9. Menurut Abu Bakar Ibn ‘Arif dalam kitab I’anat al-Thalibin III halaman 364 bahwa maulid pernah dilakukan pada abad 2 H secara sederhana, dan diadakan besar-besaran pada abad 6 H/11 M. Menurutnya raja yang pertama kali mengadakan adalah Abu Sa’id Mudhazaffar dari Bani Fatimi yang memerintah kerajaan Arbel di negeri Irak sebelah Timur Laut, Raja Mudzaffar ini adalah ipar Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, karena masyarakatnya telah mapan dari sisi ekonomi dan mulai kurang semangatnya dalam berjuang karena terbuai oleh mimpi, padahal negara sedang terancam dari luar yaitu serangan raja Jengis Khan, maka diadakan perayaan besar-besaran dengan lomba menyusun manaqib al rasul guna membangkitkan semangat kepribadian Nabi dalam diri masyarakatnya,dan misi inipun berhasil. Dan sejak saat itulah perayaan sangat memasyarakat.
  10. Diantara manaqib al rasul yang sering dibaca di Indonesia adalah maulid syaraf al-anam karya al-Sayyid Ja’far bin Hasan al-Barzanji, Maulid al-Daiba’i karya al-Imam ‘Abd al-Rahman al-Daiba’i, Maulid ‘Azab karya al-Imam Syaikh Muhammad al-’Azab, Qashidah Burdah karya Syaikkh Muhammad al-Bushiri. Isinya merupakan Nabi, shalawat, sanjungan dan pujian terhadapnya dalam bentuk prosa maupun syair-syair yang terkesan didalamnya ada yang berlebihan, ada pula yang wajar. Bertolah dari bacaan inilah yang memunculkan pro dan kontra. Untuk meletakan makna yang sesungguhnya dengan cara menyelami lebih jauh makna syair tersebut denganmemperhatikan sejarah serta gaya pengarangnya atau dalam bahasa ilmiah dikenal dengan pendekatan Hermenutik.
  11. Bahwa perayaan Maulid Nabi tidak dijumpai pada masa awal Islam. Hanya ada satu riwayat yang menggambarkan bagaimana Nabi merayakan hari lahirnya sendiri yaitu dengan berpuasa, yaitu riwayat Abu Qatadah yang menyatakan bahwa ketika Rosulullah Saw., ditanya tentang alasan mengapa berpuasa pada setiap hari senin, beliau menjawab bahwa pada hari itu merupakan hari lahirku juga hari dimana aku pertama kali diutus sebagai sebagai nabi (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi, ‘Abd al-Razzaq dan Abu Ya’la).
  12. Tradisi Shalawatan di Indonesia yang bersumber dari maulid syaraf al-anam karya al-Sayyid Ja’far bin Hasan al-Barzanji terkenal dengan Barjanzi, Maulid al-Daiba’i karya al-Imam ‘Abd al-Rahman al-Daiba’I terkenal dengan Dibag’an, Maulid ‘Azab karya al-Imam Syaikh Muhammad al-’Azab, Qashidah Burdah karya Syaikkh Muhammad al-Bushiri terkenal dengan Qosidah, sebagai syiar perlu mendapat catatan, namun untuk mengetahui kebenaran ajarannya, perlu disampaikan sejarah dan makna apa yang dibaca, lebih-lebih perlu ditinjau kembali hal-hal yang bersifat berlebihan untuk direfisi oleh ulama saat ini dan ditemukan format baru yang lebih baik bukan sekedar melanggengkan sesuatu yang diketahui jelas-jelas salah atau bahkan atau mengobrak abrik tradisi yang belum jelas kesalahannya ! Al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadis al-ashlah (memelihara aset-aset yang baik danmenerima aset-aset baru yang lebih baik lagi). Wallaahu a’lam.