Rabu, 18 April 2012

HUBUNGAN AKHLAQ DAN AL QUR’AN


Oleh Drs. H. Iskaq Haryono (Kendal)
Disampaikan dalam Kuliah Subuh Ahad Pagi Muhammadiyah Temanggung, 15 April 2012



Kalau melihat perkembangan akhlaq anak – anak sekolah sekarang ini, kita agak cemas. Hal ini karena dalam sekolahan yang ditekankan bukan akhlaq anak, tetapi jumlah nilai (skors) yang diperoleh. Hal ini bukan salah guru atau sekolahan, tetapi karena sistem pendidikan kita. Padahal seharusnya semua pendidikan hasilnya adalah akhlaq anak yang baik. Sehingga pengetahuan tentang akhlaq menjadi mutlak tanggung jawab orang tua. Dan ukuran akhlaq adalah Al Qur’an.
Beberapa karakter orang-orang berakhlaq menurut Al Qur’an :
  1. Selalu mengatakan “terima kasih” atau bersyukur, seperti QS. Luqman (31), 12 :
12. Dan Sesungguhnya telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Kebiasaan mengucapkan “terima kasih” dalam rumah tangga dan orang lain , adalah salah satu usaha untuk menghargai orang lain dan diri sendiri, dan hal ini sangat mendidik pada anak untuk peningkatan akhlaq. Dan ini kalau menjadi kebiasaan pada anak untuk mengucapkan “terima kasih” maka akan dapat membentuk karakter anak yang berakhlaq. Sehingga karena dalam keluarga pendidikan tentang mengucapkan “terima kasih” kurang, maka perusahaan besar dan marketing, mengadakan training untuk karyawannya agar terbiasa mengucapkan “terima kasih” , hal ini akan menjadikan perusahaan tersebut disebut ramah dan dapat melayani konsumen. Jadi selalu mengucapkan “terima kasih” adalah karekter orang-orang yang berakhlaq dan bertaqwa.
  1. Selalu mengucapkan “mohon ma’af” (sorry), seperti dalam QS. Ali Imron (3): 133-134 :
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. 135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.
Membiasakan mengucapkan “ma’af” dalam kehidupan sehari-hari akan mendekatkan kita dalam ketaqwaan. Kata “ma’af” bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga berarti memintakan ma’af untuk orang lain. Salah satunya kebiasaan saling minta maaf sebelum bermusyawarah, sehingga suasana yang tercipta jadi damai dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Orang yang meminta maaf terlebih dahulu tidak akan menjatuhkan martabatnya, justru akan menunjukkan karakter orang yang bertaqwa. Dalam QS. Al Baqarah (2), 263, Allah berfirman :
263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
  1. Selalu mengucapkan “bisa minta tolong …, (please help me), dalam ucapan atau perintah, karena dapat menciptakan suasana saling menghargai.
  2. Bila marah tidak bersamaan, tidak mengunakan kata-kata kasar dan tidak bernada tinggi.
  3. Bersikap baik pada orang tua, yaitu dengan cara :
  1. Lisan ,selalu mengucapkan “Always YES never NO, Keep silent and run,” (selalu mengucapkan “ya” , jangan pernah “tidak”, tetap tenang dan melaksanakan ), Vocab : kosakata harus berbeda ketika bicara pada teman , Intonasi: tidak boleh membentak, Content: tidak meremehkan
  2. Jika mendapat rizqi ke orang tua lebih dahulu, mungkin beliau lebih membutuhkan dan minta didoakan.
  3. Datang ke orang tua HARUS bawa sesuatu .
  4. Jangan pakai LOGIKA, dalam menawarkan sesuatu. Orang tua pakai RASA.
  5. Jangan memaksakan memberi nasehat secara langsung, RAWAN KONFLIK. Lewat orang lain lebih baik.
  6. Menggunakan cucu sebagai media dekat dengan orang tua.
  1. Selalu memberi salam , dalam hadist dari Abdullah bin Amr r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw., "Islam manakah yang lebih baik?" Beliau bersabda, "Kamu memberikan makanan dan mengucapkan salam atas orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal."


    Dokumentasi :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar