Minggu, 18 Desember 2011

Penjelasan Syahadat Tauhid

Penjelasan Kitab Tafsir Al ‘Usyril Akhir
Minal Qur’anil Karim Min Kitab Zubdatit Tafsir
Penulis Al Syaikh Doktor Muhammad Bin Sulaiman Al Asyqor, terbitan Saudi Arabia (www.tafseer.info)
Oleh Bp. H. Drs. Asy’ari Muhadi. MA
(disampaikan dalam Kajian Malam Rabu Muhammadiyah Temanggung, 29 Nopember 2011).

KESAKSIAN BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH
Diriwayatkan dalam atsar (ucapan sahabat Rasulullah): Sesungguhnya kunci surga itu : La illahha illallah (tidak ada tuhan selain Allah). Tetapi apakah setiap orang yang mengucapkan La illahha illallah berhak dia dibukakan pintu surga ?.
Ditanyakan pada Wahab bin Munabid rakhimakumullahuta’ala : Bukanlah “La illahha illallah” itu kuncinya surga ?. Dijawab Wahab bin Munabid : Betul. Tetapi tidak ada kunci itu yang tidak memiliki gerigi. Maka manakala engkau membawa kunci yang bergerigi, dibukakan untuk kamu pintu surga itu . Manakala kamu membawa kunci surga yang tidak bergerigi, maka pintu surga itu tidak akan dibuka untuk kamu.


Dan telah datang dari nabi kita Muhammad SAW hadist – hadist yang banyak, yang menjelaskan sekumpulan dari gerigi –gerigi kunci ini, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang berkata ““La illahha illallah” dengan penuh ikhlas, dengan sepenuh keyakinan hatinya, atau mengucapkan benar-benar dari hatinya, dan banyak lagi ungkapan lain oleh nabi dengan berbagai versi. Hadist – hadist itu dikaitkan dengan persyaratan sesorang bisa mendapatkan surga dengan mengetahui makna kalimat ini (“La illahha illallah”). Dan kokoh pendirian diatas kalimat “La illahha illallah” sampai meninggal dunia. Dan tunduk terhadap maksud dari kalimat “La illahha illallah” dan lain sebagainya.
Dan berdasarkan hal –hal tersebut diatas para ulama mengambil hukum / menetapkan beberapa syarat harus dipenuhi. Dalam kondisi terhindar dari penghalang sehingga menjadilah kalimat “La illahha illallah” menjadi kunci bagi surga , dan bermanfaat bagi orang yang berpegang teguh kalimat “La illahha illallah”. Dan syarat – syarat dibawah ini, ialah gerigi gerigi kunci itu, yaitu :

  1. Ilmu / Mengetahui / mengerti: Setiap kalimat pasti ada maknanya, maka kamu wajib mengetahui kalimat “La illahha illallah” , dengan pengetahuan yang sebenarnya sampai meniadakan sifat kebodohan/ketidak tahuannya. Kamu meniadakan sifat –sifat ketuhanan dari selain Allah, yang kamu menempatkannya kepada Allah. Maksudnya : tiada yang di ibadahi dengan sebenarnya selain Allah. Allah berfirman : Kecuali sesorang yang yakin akan kebenaran (kalimat “La illahha illallah” ) sedang mereka itu mengetahui. Dan perintah Muhammad SAW : Barang siapa meninggal dunia dan ia mengetahui bahwa “La illahha illallah” maka dia masuk surga. (HR. Muslim)
Keterangan : Dalam memahami kalimat “La illahha illallah” harus mengerti betul –betul antara lain dengan meniadakan sifat ketuhanan selain Allah. Kalau kita masih percaya ada barang/makhluk lain selain Allah yang mempunyai sifat ketuhanan, maka kita kehilangan gerigi untuk kunci masuk surga.

  1. Yakin : Dia yakin dan kokoh dari kalimat “La illahha illallah” . Dan karena kalimat itu tadi tidak diterima dengan keraguan dan tidak menerima persangkaan dan tidak ada kebingungan dan tidak bimbang ,tetapi wajib berdiri tegak diatas keyakinan yang pasti dan mantab. Allah berfirman ,memberi sifat orang-orang mukmin: Sesungguhnya orang-orang beriman itu, ialah orang yang beriman kepada Allah dan kepada utusannya, kemudian ia tidak ragu – ragu lagi. Dan ia berjihad dengan harta mereka dan jiwa mereka di di jalan Allah. Mereka itulah orang – orang yang benar. (QS. Al Hujuraat (49) : 15). Tidak cukup hanya mengucapkannya saja. Tetapi harus dengan keyakinan hati. Kalau masih ragu-ragu, dia adalah munafik yang nyata. Nabi bersabda : Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah, seseorang tidak akan menjumpai Allah dengan kedua kalimat itu, dengan tidak ragu – ragu dengan kedua kalimat itu, kecuali dia masuk surga.(HR. Muslim)
Keterangan : Ada kasus menjelang 1 Muharam / 1 Suro, seorang pekerja pamit kepada majikannya untuk tidak masuk bekerja karena ada saudaranya yang mau menikah. Tetapi sampai 6 hari dia tidak masuk. Setelah ditanya majikanya, dia menjawab telah melakukan ritual Suro di Gunung Srandil Cilacap. Padahal dia juga mengucapkan “La illahha illallah” dan juga masih sholat. Itu bukti bahwa dia masih ragu terhadap ucapan “La illahha illallah”. Karena masih merasa ada penyelamat lain selain Allah, masih merasa ada yang patut diibadahi selain Allah. Juga ada kasus lain tentang pernikahan yang dilakukan di bulan Muharam/suro yang tidak berani dilakukan karena beranggapan nantinya pernikahan akan kurang bahagia, berarti masih ada selain Allah yang dia percaya, yang membuat dia merasa tidak bahagia. Dan dia termasuk orang yang masih ragu – ragu terhadap Allah.

  1. Menerima : Apabila engkau telah mengerti dan sudah yakin , maka apabila pengetahuan yang berkeyakinan ini mempunyai pengaruh didalam hatinya, dan yang demikian itu dengan menerima apa yang di putuskan oleh kalimat ini, dengan hati dan dengan lisan. Barang siapa menolak dakwah tauhid, dan tidak mau menerima dakwah tauhid, maka dia kafir. Sama juga apakah penolakannya dia itu karena sombong, apakah dia keras kepala, atau dengki. Dan telah bersabda Allah SWT terhadap orang – orang kafir yang menolak kalimat tauhid dengan congkak : Sesungguhnya mereka itu apabila diterangkan kepada mereka ucapkan “La illahha illallah” mereka sombong. (QS. Ash Shaaffaat (37) : 35)
Keterangan : Yang menerima kalimat itu dengan sungguh –sungguh baik hatinya maupun lisannya. Kalau lisan mengucapkan tetapi hatinya tidak menerima, disebut munafik. Kalau hati menerima tetapi lisan tidak, berarti tidak pas/tepat. Karena iman itu keyakinan dalam hati , diucapkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan.
Ada cerita seseorang yang sakit parah tidak segera dibawa ke Rumah Sakit karena menunggu perhitungan hari. Menurut keluarga hari yang pas adalah sabtu. Tetapi ada kerabat yang berkeyakinan bahwa pasien harus segera mendapat pertolongan, pada hari kamis di bawa ke RS, setelah di rawat beberapa hari, meninggal dunia, maka keluarga saling menyalahkan, karena tidak dibawa ke RS hari Sabtu. Hal ini karena sebagain keluarga menolak dakwah tauhid, belum menerima keyakinan terhadap Allah sepenuhnya.
Dalam suatu kisah Abu Tholib berkata : “Saya mengakui bahwa agama yang dibawa Muhammad adalah agama yang terbaik, seandainya aku ini tidak takut dicacimaki orang – orang Qurasy, aku pasti akan menuruti agama Muhammad itu dengan ikhlas”. Jadi Abu Tholib menolak agama karena dengki atau gengsi, takut kehilangan jabatan diantara mereka.

  1. Patuh dan tunduk: Patuh dan tunduk dengan kepatuhan yang mutlak/pasti dengan pembuktian nyata, dan merupakan pengamalan keimanan. Dan mewujudkan ini dengan perbuatan yang disyari’atkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang dari Nya. Allah SWT berfirman : Barang siapa yang berserah diri hanya kepada Allah, dan dia berbuat kebaikan, maka ia telah berpegang teguh pada tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kembalinya semua perkara. (QS. Luqman (31): 22). Dan inilah sempurnanya ketaatan.
  1. Jujur : Dalam ucapannya (La illah ha illallah”). Kejujuran yang meniadakan kedustaan. Maka sesungguhnya barang siapa yang mengucapkan kalimah thoyibah dengan lisannya saja, sedangkan hatinya mendustakan, maka dia orang munafik. Dalil yang digunakan adalah firman Allah SWT dalam mencela orang munafik : Orang – orang munafik itu , mereka mengucapkan dengan lisan mereka, apa yang tidak ada dihatinya. (QS. Ali Imron (3) : 167)
  1. Cinta : Orang – orang mukmin harus cinta kalimah thoyibah ini. Dan wajib beramal dengan amalan sesuai dengan apa yang dimaksudkan dengan kalimah thoyibah. Dan mencintai orang mengucapkan kalimah thoyibah dengan penuh keyakinan dan yang mengamalkan kalimah thoyibah dengan sebenarnya. Dan tandanya kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, yaitu mendahulukan cinta kepada Allah, dan walaupun bertentangan dengan hawa nafsunya. Dan dia akan setia pada Allah dan utusannya. Dan Kita menyatakan bermusuhan yang memusuhi Allah. Dan mengikuti utusan Allah. Mengikuti jejak langkahnya dan kita menerima petunjuknya.
Keterangan : Dari pengalaman sebagian masyarakat Arab Saudi , ketika berdagang atau bertransaksi dan mendengar adzan untuk sholat, maka transaksi dihentikan, toko ditutup dan pergi ke masjid. Karena berkeyakinan mendahulukan Allah dari selain Allah, dan berkeyakinan bahwa ketika transaksi dan mendengar adzan, maka tidak diberkahi Allah.
Contoh Puasa ramadhon dan sholat tahajut merupakan tindakan yang mengalahkan hawa nafsu dan mengutamakan kecintaan pada Allah. Nabi bersabda : Kalau urusan dunia kalian lebih tahu dari pada Ku, kalau urusan agama kembalikan kepada Ku. Jadi kalau ada petunjuk dari nabi masih belum puas, dan mencari petunjuk yang lain berarti meragukan petunjuk dan langkah Nabi. Dalam suatu riwayat diceritakan ada sesorang menanyakan suatu hukum/perkara kepada nabi, dan dijawab/diterangkan oleh nabi. Tetapi dia tidak puas, dan datang kepada Abu Bakar. Abu Bakar bertanya : “Kamu sudah ke Rasulullah ?” Dijawabnya : “Sudah”. Abu Bakar bertanya lagi : “ Bagaimana jawaban rasulullah ?” Dijawab : “hukumnya begini ........ “. Abu Bakar berkata : “Itulah jawaban saya”. Orang tersebut tidak puas dan datang ke Umar. Kemudian Umar bertanya : “Kamu sudah tanya ke rasulullah ?” Dijawab : “Sudah”. “Sudah tanya ke Abu Bakar” dijawab : “ Sudah. Kemudian Umar bertanya lagi : “Jawabannya apa “ Dijawab : “Kedua jawaban sama.” Kemudian Umar menebas dengan pedang leher orang itu. Dan Umar menceritakan kepada Nabi, dan Nabi menjawab : “ Kamu betul.” Hal ini karena orang tersebut sudah tidak mempercayai jawaban / hujjah/ petunjuk dari Nabi dan Abu Bakar.

  1. Ikhlas : Pengucapan kalimah thoyibah itu tidak lain hanya untuk mengharapkan ridlo Allah. Firman Allah : Dan tidaklah mereka diperintah kecuali hanya untuk menyembah kepada Allah, mengikhlaskan seutuhnya dalam beragama dan penuh kecenderungan kepada Allah. (QS. Al Bayyinah (98) : 5). Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah mengharamkan terhadap neraka bagi orang yang mengucapkan “La illahha illallah” dengan mengharapkan ridlo Allah semata.(HR. Al Bukhori)
Keterangan : Dalam pengertian umum bahwa kalau masalah agama kita menunggu diperintah oleh Allah dan Rasulnya, dan melaksanakannya. Kalau masalah dunia kita menunggu larangan Allah dan Rasulnya. Kalau di larang baru berhenti. Contoh : Pada dasarnya makan dan minum apa saja boleh, kecuali yang sudah dilarang. Juga tidak melakukan suatu ibadah apapun , kecuali karena ada perintah.
Meskipun syarat - syarat ini terpenuhi semua, namun demikian harus tetap teguh dan konsisten diatas kalimat itu sampai meninggal dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar